Tradisi, “Tegu’ Wata”, Cara Etnis Boru Bersyukur Atas Hasil Panen

Spread the love

Flotim-onlinentt.com,-Tegu’ Wata” bagi etnis Boru Tana Bojang yang mendiami wilayah perbatasan Kabupaten Flores Timur dengan Kabupaten Sikka, NTT, merupakan sebuah ritual ucapan syukur atas hasil panen karena segala yang diperoleh adalah berkat dan campur tangan dari sang pencipta (Leran Wulan Tana Ekan) dan leluhur (Ata Maten).

Selain itu dalam tradisi ini terdapat beberapa konsepsi Etnis Boru yaitu konsepsi tentang bumi (Tana Ekan), bercocok tanam (Ola Krian) dan Kawin Mawin (Kaweng Gate’).

Tegu’ Wata sendiri dilaksanakan setiap tahun usai panen oleh persekutuan suku suku asli yang mendiami Desa Boru yaitu Suku Liwu, Lewar, Plue, Hikon, Soge, dan beberapa suku lain yang tergabung dalam persekutuan suku adat Boru di masing-masing rumah adatnya, diawali dengan persiapan, salah satunya adalah persiapan hidangan adat yaitu tumbuk emping “Bajo Melang”, padi yang digoreng dalam belanga lalu ditumbuk untuk dijadikan emping.

Pada acara inti, para sesepuh dan kepala suku melaksanakan beberapa rangkaian ritual yakni
Nabung Ata Maten : menyampaikan hajatan tersebut kepada orang yang telah meninggal.
Ri’e Puken Matang Wanan: menyatukan hati sebagai kekuatan suku.
Hapung Nuhek: perenungan kesalahan sekaligus meminta kepada Tuhan untuk menghapus semua kesalahan manusia dan diberkahti.

Lau Laran: menyampaikan kepada makhluk gaib untuk tidak menggangu ritual tersebut.
Ile Woka: mengundang Leluhur pertama suku yang dipercaya keberadaannya di gunung/bukit sekitar.
Pa’u Tana Korok: seremonial memberi makan kepada tanah sebagai ibu bumi.
Tana Wulan: seremonial persembahan khusus kepada Sang Pencipta (Lera Wulan Tana Ekan).
Hode Ata Maten: seremonial menjemput para leluhur menghadiri pesta syukuran panen tersebut.
Bine Pana Gere Wolo: salah satu perempuan suku bersama suaminya (Bine) telah ditunjuk untuk pergi ke bukit mencari sirih dan pinang dan membawanya ke rumah adat suku sebagai lambang kehormatan dan kerukunan dalam suku.
Tekan Wua’ Beleken: makan siri pinang bersama sebagai lambang persatuan dan kesatuan. Pada ritual tersebut, syair syair dari sesupuh pun dilantunkan untuk menghormati Sang pencipta dan leluhur, syukuran dan memohon perlindungan dari musibah.

Setelah beberapa rangkaian tersebut selesai, hewan kurban pun disembelih. Secara tradisi adat Boru, Hanya suku Plue yang berhak menyembelih hewan kurban di setiap suku asli di Boru yang mempunyai ritual ini, karena sejarah mengatakan leluhur suku Plue (Plue ulu mai, depo ulu sina) adalah orang pertama mendiami Boru.

Suku Liwu (Liwu kukun ubun tawa, Wengi au’ oran baran tawa gere) sebagai Pare’ yang artinya hewan kurban dapat disembelih apabila telah mendapat ijin atau restu dari suku Liwu, karena suku Liwu adalah raja tanah.
Demikian juga suku Hikon (Hikon helir unen, popo pihak watu dare) sebagai Koton yang artinya hewan kurban dapat disembelih apabila suku Hikon yang memegang kepala dari hewan tersebut, karena Suku Hikon adalah tuan tanah. Ketiga suku ini mempunyai peran penting untuk semua persekutuan suku suku asli Boru.

Sedangkan Suku Lewar (Lewar lama dope, futa haru bala) adalah suku yang dipandang mempunyai kedudukan lebih tinggi dalam tradisi adat perkawinan oleh suku Liwu dan suku Plue, karena dahulu kala leluhur laki laki suku Liwu dan Plue menikahi leluhur perempuan dari suku Lewar. Hingga kini suku Lewar dipandang sebagai suku “Ina ana tawa tana”.

Puncak dari ritual Tegu’ wata adalah Gaha’ Wolo’. Pada ritual ini semua anggota suku yang hadir diberikan kesempatan untuk memberi makan kepada leluhur dengan cara melempar buah pinang ke dalam rumah suku. Lempar pinang dimulai saat gong berbunyi hingga bunyi gong dihentikan.

Setelah acara gaha’ wolo’ selesai, dilaksanakanya ritual “Ekak”, penghormatan terakhir kepada sang pencipta dan leluhur sebelum mencicipi emping serta hidangan lainya. Usai ritual, anggota suku boleh mengkspresikan kegembiraan dengan tarian, diiringi gong gendang dan musik tradisional lainnya.

Simon Kupo Liwu, Kepala Suku Liwu ditemui saat kegiatan ini berlangsung, Minggu, 28 April 2019, menyebut Tegu’ wata merupakan ritual syukuran dan penghormatan yang sebelumnya telah dilaksanakan oleh leluhur sejak ratusan tahun silam.
“Walaupun ada hasil yang kurang, kami tetap menjalankan ritual ini. Selain bersyukur, kami juga meminta kepada Tuhan dan leluhur untuk memberikan hasil yang cukup serta memohon agar selalu dijauhkan dari musibah”.

Sementara itu kepala Desa Boru, Benediktus Baran Liwu yang juga ikut menghadiri ritual ini, menuturkan tradisi dan kearifan lokal Desa Boru juga turut memperkaya budaya Nasional serta sebagai asetnya Kabupaten Flores Timur. Ia juga memandang perlunya upaya upaya lain untuk mempertahankan rasa cinta masyarakat terhadap budaya.
“Saya berharap Pemda Flores Timur melalui Disparbud dan Dinas PPO untuk bisa mengidentifikasi dan mendukung pelestarian tradisi ini. harap Ben.

Ben melihat di Desa Boru, adat sangat berperan penting untuk mengubah perilaku masyarakat, menurutnya kearifan lokal adalah dasar dari perilaku masyarakat.
Ia menegaskan kepada generasi untuk tetap mempertahankan tradisi yang ada sehingga degradasi budaya tidak terjadi.

Selain itu, terkait kawin kawin antar suku, Ben berharap kepada para generasi agar tidak salah menikah. Ada suku suku yang secara tradisi tidak diperbolehkan untuk dinikahi.
“Jadi kepada generasi saya harap bisa melihat dulu suku mana yang bisa nikah dan suku mana yang dilarang nikah secara adat. Ini sangat berpengaruh terhadap status dan atau kedudukan sosial dalam persekutuan adat kita” tutur Ben.(*Lw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *