Tapal Batas Antara Kabupaten di Sumba Dapat Diselesaikan Gubernur VBL

Spread the love

onlinentt.com-Sumba, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat akhir dapat menyelesaikan tapal batas antara Kabupaten Sumba Barat (Sumbar) dan Sumba Barat Daya (SBD) yang berlarut-larut sejak tahun 2012 silam.

Kedatangan Gub VBL di bandara Tambolaka dijemput Bupati SBD, Markus Dairo Talu (MDT) dan Bupati Sumbar, Niga Dapawole dan sejumlah pejabat lainnya. Nampak bersama Gub VBL, Karo Humas dan Protokol Setda Prov NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius.

Usai sarapan pagi di rumah jabatan Bupati SBD, Gub VBL bersama rombongan konvoi ke desa Karang Indah yang jaraknya kurang lebih 80 km dan ditempuh dengan waktu kurang lebih 2,5 jam.

Setiba di desa Karang Indah, Gub VBL dijemput Wakil Bupati SBD, Ndara Tanggu Kaha diiringi tarian masyarakat yang penuh dengan sukacita. Mereka bergembira karena hari ini Gub VBL berkenan mengunjungi mereka.

Dalam arahan singkat, Bupati MDT menegaskan, pihaknya bahagia dan berterima kasih atas kehadiran Gub VBL dan rombongan di tempat ini. “Hari ini telah hadir di tengah-tengah kita Bapak Gubernur VBL. Mari bapak, mama, anak-anak muda yang ada di desa ini untuk sampaikan apa isi hati yang selama ini terpendam. Sampaikan dan biarkan Bapak Gubernur yang memutuskan,” kata Bupati SBD.

Di tempat yang sama, Bupati Niga Dapawole dalam sekapur sirih mengatakan, akan memperhatikan masyarakat yang ada di Desa Karang Indah. “Pemerintah akan memperhatikan masyarakat yang ada di Desa Karang Indah. Karena itu, selamat datang dan kami akan menggendong masyarakat semua karena kita semua saudara,” ucap Bupati Niga.

Usai menyampaikan sekapur sirih, protokol menyampaikan bahwa akan dilanjutkan dengan penyerahan bantuan bibit kelapa dan anakan jambu mete, suasana yang ada di tenda tempat berkumpulnya masyarakat mulai gaduh. Masyarakat menolak dengan tegas penyerahan bantuan tersebut dan berteriak tidak akan bergabung dengan Kabupaten Sumbar.

Hiruk pikuk dengan teriakan masyarakat, Plt. Sekda yang juga Asisten Pemerintahan Sekda SBD, Frans Lado tampil di tengah masyarakat dan berteriak, “Bapak Gubernur belum bicara. Mari kita dengar apa kata Bapak Gubernur. Semua diam dan duduk.

“Melihat situasi yang memanas, Gub VBL tampil dan memegang mic lalu berkata,”hei….semua duduk. Semua masyarakat duduk; dengar saya sebagai gubernur. Duduk, diam dan dengar.”

“Sebagai Gubernur, saya minta untuk semua diam. Yang hadir ini pemerintah. Bapak nya kalian. Tidak boleh. Kalau ada yang berbeda, mari duduk dan kita bicara. Kalau ada yang mau berontak, saya ini ahlinya berontak,” tegas Gub VBL, dengan suara keras.

Gubernur menambahkan,” sebagai bapak saya datang di tempat ini dan saya mau dengar dari semua tokoh masyarakat. Saya mau urus dan kita putuskan hari ini. Saya sudah ada di sini. Semua tenang, duduk dan bicara yang sopan. Satu persatu duduk dan bicara, saya dengar dan akan putuskan hari ini juga.

Setelah itu master of ceremoni mencatat nama-nama para tokoh yang akan menyampaikan isi hati mereka kepada Gubernur VBL dan Bupati Sumbar dan Bupati SBD.

Mereka berharap agar ada keputusan yang adil dan bijak dari Gubernur VBL. Tapi intinya mereka menolak bergabung dengan Kabupaten Sumbar.

Mendengar keluhan dan isi hati masyarakat Desa Karang Indah, Gubernur VBL meminta kepada Bupati MDT peta. Setelah melihat peta dengan seksama, Gub VBL mengajak masyarakat yang telah menyampaikan isi hati mereka untuk masuk ke dalam kantor desa bersama Bupati MDT dan Bupati Niga serta aparat keamanan.

Kurang lebih 25 menit di dalam Kantor Desa Karang Indah, Gub VBL keluar bersama-sama mereka dan menghadap mic untuk menyampaikan hasil pertemuan tertutup tersebut.

“Setelah kami berembuk di dalam maka telah disepakati batasnya. Hari ini juga saya tetapkan batas. Masyarakat yang ada di Desa Karang Indah tetap berada di Kabupaten SBD. Para tokoh telah putuskan. Siang ini saya akan ke Jakarta untuk lapor Pak Menteri Dalam Negeri. Tidak boleh lama-lama di tempat ini. Mari bawa besi gali saya yang tancap di batas itu,” kata Gubernur disambut tepuk tangan yang gemuruh dari masyarakat Desa Karang Indah.

Setelah itu Gubernur VBL dan rombong menuju ke batas dekat PT Karya untuk menancap batas antara Kabupaten Sumbar dan Kabupaten SBD.

Usai prosesi di tapal batas, Gubernur VBL kembali ke bandara Tambolaka dengan jet pribadi untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Seperti diberitakan sebelumnya, diberitakan bahwa masyarakat di Desa Karang Indah Kecamatan Kodi Balaghar Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menyatakan kesiapannya untuk menerima kunjungan kerja (Kunker) Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) pada Rabu (20/06/2019).

Pernyataan kesediaan menerima kunjungan Gub VBL ini disampaikan sejumlah perwakilan masyarakat saat bertatap muka dengan Bupati SBD, Markus Dairo Talu (MDT) di depan Kantor Desa Karang Indah, Selasa sore (19/06/2019). Ikut hadir bersama Bupati MDT, Plt Kaban Perbatasan Prov NTT, Linus Lusi Making, Plt Sekda SBD yang juga Asisten Pemerintahan, Frans Lado serta sejumlah pejabat dari Pemkab SBD, unsur Forkompinda serta kalangan media Pers.

Bupati SBD menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kesediaan masyarakat di Desa Karang Indah untuk menerima dan menyampaikan aspirasi yang ada di tengah masyarakat. “Saya berterima kasih, karena masyarakat sudah mau menerima kunker Pak Gub VBL ke desa ini. Kehadiran Pak Gub untuk mendengar aspirasi rakyat yang sebenarnya. Karena itu, saya ajak orang tua dan anak muda semua untuk terima dan sambut Pak Gubernur dengan sukacita. Mari kita tunjukan sikap yang baik dan sopan untuk menerima kehadiran Pak Gubernur di Kabupaten SBD khususnya di Desa Karang Indah,” tutur MDT, disambut tepuk tangan warga.

Plt. Kaban Perbatasan Prov NTT, Linus Lusi Making mengatakan, kehadiran Gubernur VBL di Desa Karang Indah membuktikan kecintaan dan kepeduliannya untuk masyarakat di Kabupaten SBD. “Pak Gub hadir di tempat ini nanti sebagai bukti cinta beliau untuk membangun masyarakat sesuai spirit NTT Bangkit dan NTT Sejahtera,” tandas Linus serentak menegaskan, “tidak ada pemasangan pilar di daerah batas.

“Bapak Gubernur hadir di sini hanya untuk mendengar aspirasi masyarakat sekaligus menyampaikan program pembangunan selama beliau menjadi Gubernur NTT,” tambah Bupati MDT.

Sesuai hasil pantauan di lapangan masyarakat Desa Karang Indah menyatakan ketidaksetujuan mereka untuk bergabung dengan Kabupaten Sumba Barat. Mereka bertahan di dalam teritorial atau wilayah yang ada sekarang ini yakni Kabupaten SBD. (Valeri Guru/Pranata Humas Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *