Sadok Nonga, Tinju Tradisional Ungkapan Syukuran Panen Desa Bentala

Spread the love

onlinentt.com –NTT, –Atraksi Sadok Nonga menjadi tontonan menarik yang disuguhkan pada Festival Lamaholot, dipentaskan warga Desa Bentala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur.

Oleh warga Desa Bentala, tradisi Sadok Nonga atau tinju adat dilaksanakan sebagai bentuk syukuran atas berkat hasil panen selain itu sebagai wadah pembangkit semangat kesatrian pria Desa Bentala.

Secara harafiah, dalam bahasa Lamaholot, Flores Timur, Sadok Nonga berasal dari kata Sadok artinya tinju dan Nonga artinya wadah sebagai sasaran tinju. Wadah ini sebenarnya adalah bakul yang terbuat dari daun lontar yang disebut dengan Kara atau Ne’e.

Sadok Nonga berbeda dengan tinju konvensional yang dilakukan kapan dan di mana saja, terutama  pada motif  dan teknik. Sadok Nonga hanya bisa dilakukan pada akhir masa panen. Selain itu Sadok Nonga hanya bisa terjadi di sekitar Padu Era (mezbah) pada kebun adat yang sebelumnya dilakukan upacara adat oleh sesepuh adat. Sadok Nonga diiringi dengan teriakan, pekikan semangat untuk menantang lawan baik dilakukan petinju maupun penadah sembari diiringi oleh tarian Hedung.

Setiap laki laki dewasa berhak memilih peran sebagai peninju ataupun sebagai penadah media tinju dengan menggunakan bakul/Kara/Ne’e. Bakul tersebut diisi dengan jerami padi dan dibawah untuk menantang para petinju. Pada saat memukul, si pembawa bakul/Kara harus pada posisi siap dengan ketahanan kuda kuda yang kuat. Para petinju harus memukul sekeras mungkin hingga bakul tersobek.

Kalah atau menang bukan menjadi sesuatu yang diperhitungkan dalam Sadok Nonga ini. Berakhirnya Sadok Nonga tergantung dari pada keputusan sesepuh dengan melihat kondisi dan situasi saat itu. Setelah diputuskan, dilakukan ritual penghormatan kepada Dewi Padi/Nogo Ema dan padi di bawah masuk ke lumbung adat. (*Att)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *