Nenek Moyang Orang Rote Tinggal di Bulan?

Spread the love

Penulisan ini tidak bermaksud Apa-Apa Kami Hanya Mencoba Mempertahankan Sejarah Tuturan

onlinnett.com, –Di kehidupan leluhur pertama orang Rote, mereka masih bergantung hidup pada perburuan binatang liar, atau bertahan hidup dengan mengandalkan potensi alam, seperti hutan dan laut. Waktu itu juga mereka baru mengenal lubang-lubang jurang dan goa sebagai tempat hunian.Untuk itulah maka tidak melupakan masa itu mereka selalu bertutur syair menyebut, “ara bei bambi leak, ma ara bei soru luak” do ara bei folu buluk ma ara bei raa matak,. Arti harafiahnya adalah,”mereka masih berlindung di dalam lubang-lubang jurang dan atau lubang-lubang goa. Selain itu mereka juga masih memakan daging mentah bersama bulunya.

Diperadaban itu, leluhur  Rote bisa dikatakan masih berada dalam kehidupan yang sangat primitif, serta belum mengenal bercocok tanam. Segala bibit belum diturunkan ke bumi oleh leluhur Rote dengan nama adatnya, LUSI MATA (Allah Bapak/Manaduk/Amak Matua Lain.

Bibit-bibit tersebut, masih tergantung di cakrawala, ketika air hujan diturunkan ke bumi oleh penguasa MA HU LAIN/TELUK AMAN LAI LONDA (LANGIT) dan BELA HUN/HAK AMAN LEPA  DAE (BUMI), barulah bibit itu dijatuhkan ke bumi.

Namun bibit- bibit itu pun, termasuk padi belum sampai di bumi, masih terkait di cabang, ranting, pucuk, dan dedaunan pohon-pohon kekak dan beringin yang tinggi dan rindang.

Peristiwa ini dikenang dalam syair yang berbunyi, “bini bêtes do nggee hader iar, ara baes sara mai dee, ruma bebenggu belu kekan baen ma sar lalae nunuk oen, (RAKA MORA/LAKA MOLA).  Tehu neu naa, ara bei tadas sara rai lali naruk karaa mai numa moo loak karaa. Neu lelek na dula dalek taa ma malelak beik, dee ara taa bei tao osir do thiner.  Boe ma neu faik esa, boe ma ara seles sara numa uma lutu kota tana duan. dee, boe ma ara rabuna dua ma ara ra doo telu. Boe ma neu faik esa boe ma ara kekos lao-lao mai Dee ara tandes ma ara seles sara numa LOLE KOSU, Boe ma ara kekos do ara lalis mai dee ara tandes do ara seles ruma tekeme. Tehu neu faik esa, boe ma ara lalis do ara kekos la’o-la’o mai. Dee ara tandes ruma lee lain. Boe ma, losa faik ia, bini bêtes do ngge hader iaar ta mana basak nai lelain do lole daen”.

Arti Harafiahnya, bahwa pada mulanya, segala bibit tanaman termasuk padi, saat dibagikan kepada leluhur, tidak langsung diturunkan ke bumi, melainkan masih bergelantungan di cakrawala. Suatu hari, ketika air hujan diturunkan oleh penguasa MA HU LAIN/TELUK AMAN LAI LONDA (LANGIT), barulah segala bibit, termasuk padi inipun dijatuhkan ke Bumi. Namun sayangnya, segala bibit, termasuk padi belum sampai di bumi, melainkan terkait di cabang, ranting, pucuk, dan dedaunan pohon-   pohon kekak dan beringin yang tinggi dan rindang. Kemudian, dari tiupan angin, gerimis malam dan desiran hujan, barulah mereka jatuh ke bumi dengan mendiami hamparan padang-padang luas.

Tetapi berhubung hikmat dan pengetahuan waktu itu belum dimiliki oleh para leluhur, maka mereka belum dapat berpikir untuk berbuat apa yang disebut ladang, kebun dan sawah. Selanjutnya, suatu ketika setelah mereka punya hikmat, barulah mereka menanamkan segala bibit, termasuk padi di atas setiap pagar rumah yang menggunakan batu karang bersusun empat, tiga dan dua.

Waktu itu, segala jenis bibit masih memiliki satu tunas, berbuah dan berpulir satu, tetapi bila dimasak, (ditanak), cukup untuk dimakan bersama.

Kemudian, di kehidupan salah nenek moyang orang Rote, bernama, Bei Seuk/Se’u Randa (Bei Se’uk/Bula Se’uk/Bula Randa), yang tinggal bersama dua orang cucunya, masing-masing, Leleru Ledoh dan Pemaroh Bulan, barulah segala jenis bibit ini berbuah dan berbiji lebih dari satu akibat sebuah pelanggaran yang dilakukan.

Adapun ceriteranya, sebagai berikut, pada suatu hari, tidak diketahui secara pasti, Bei Seuk/Se’u Randa (Bei Se’uk/Bula Se’uk/Bula Randa), yang hendak pergi melaut, meninggalkan pesan kepada ke dua cucunya agar jangan lupa menanak nasi.

Perlu diketahui, bahwa Bei Sei’uk dalam dialeg  Rote secara umum, artinya; Moyang/Nenek/Oma. Sedangkan SEI’UK adalah namanya Moyang/Nenek/Oma

Sembari  menganjurkan  agar kedua cucunya, bila menanak nasi jangan mengambil dan menggunakan biji yang utuh, melainkan mengambil atau memakai sebagian dari satu biji yang telah dibagi menjadi beberapa bahagian tersebut.

Setelah pesannya disampaikan,  BEI SEI’UK lalu pergi mencari ikan di laut dengan senang hati. Keasyikan mencari ikan, Bei Seuk tak menyadari kalau air laut sudah mulai pasang. Sementara, di rumah, kedua cucu Besi Seuk sedang sibuk bermain congkak, (sejenis permainan anak-anak), sehingga belum menanak nasi.

Keduanya, baru ingat akan apa yang dipesan oleh nenek mereka setelah hari menjelang malam. Akhirnya, tergesa-gesa menanak nasi. Akibatnya, air nasi yang ditanak meluap-luap dan mengalir sampai ke laut dan menyebabkan seluruh anggota tubuh BEI SEI’UK luka dan terkelupas. Atas musibah yang dialami, BEI SEI’UK kemudian memutuskan untuk pulang ke rumahnya dengan penuh amarah.

Setiba dirumah, Bei Seuk lalu memukul kedua cucuknya menggunakan Sutel Nasi, (bahasa Kupang, Irus/ dialeg Ti, Lole dan Ba’a, disebut, “Sosodek. Pukulan pertama mengena terkena dibagian pantat, yang membuat cucunya ini berubah menjadi monyet dan berekor. Sedangkan pukulan berikutnya mengena bagian kepala salah satu cucunya lagi dan kemudian berwujud menjadi sejenis burung yang hingga hari ini selalu bersuara memanggil-manggil nama Bei Seuk. Berikut kedengaran panggilannya,”Seuuk Kou-Kouu”.

Selanjutnya, Bei Se’uk memasang eda huk (tangga), sebagai tangga naik ke Bulan dengan membawa semua peralatan tenun dan empat ekor anjing miliknya, masing-masing, kiri-kiri kii nduk kiri-kiri, lai londa kona nduk lai londa, masoro dulu nduk masoru, lai langga dulu nduk lai langga.

Menginjakan kaki di Bulan, Bei Sei’uk lalu menarik tangga tersebut dan akhirnya langit semakin menjauh dari bumi sampai saat ini.

Menyambung tuturan ini, bahwa leluhur orang Rote  tinggal di Bulan maka sudah mentradisi, bahwa ketika terjadi peristiwa Gerhana Bulan atau Gerhana Matahari, keturunan mereka dilarang keluar rumah untuk memandang ke bulan atau matahari. Bagi yang melanggar, matanya akan menjadi rabun atau katarak. Belakangan ini, karena pengaruh ilmu pengetahuan maka pantangan ini hampir tidak berlaku lagi.

Berikut garis keturunan orang Rote dari sebelum ADAM (lihat Kitab suci orang Nasrani dan Alquran Kitab suci orang Islam). Menurut tuturan para tetua adat, bahwa pada zaman sebelum ADAM, laki-laki dan perempuan bisa melahirkan.

Berikut garis keturunan sebelum ADAM.

HATU KIUK (gelap/laki-laki) mengawini DEDEU LEDOK/MANGGA LEDOK (terang/perempuan) beranak : LEDO HORO (perempuan/matahari) dan BULA KAY (laki-laki/bulan). LEDO HORO (MATAHARI) beranak : 1. ADU LEDOH 2. PEE LEDOH 3. SA’U LEDOH 4. PEMARO LEDOH 5. MALADA LEDOH 6. MALOLE LEDOH 7. LELERU LEDOH BULA KAY (BULAN) beranak : 1. NDU BULAN 2. MASI BULAN 3. MALOLE BULAN 4. MALADA BULAN 5. MATARA BULAN

Dari sekian anak MATAHARI dan BULAN terdapat beberapa orang yang berprilaku jahat dan dikenal sebagai pencabut nyawa manusia oleh orang Rote yaitu, LELERU LEDOH (BATZABUR), MATARA BULAN (LEGION), PEMARO BULAN (KUNTILANAK).

Dalam tuturan etnis Rote, PEMARO BULAN biasa disebut, MARO atau oleh masyarakat umum di NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) dinamai, KUNTILANAK atau BUNTIANAK.

PEMARO LEDOH beranak RAI AI MORI. Kemudian RAI AI MORI beranak : 1. PINGGA RAI 2. NA RAI Lalu PINGGA RAI beranak 12 orang anak yang jahat.

Menurut kepercayaan orang Rote, dari kedua belas anak inilah mendatangkan wabah penyakit bagi segenap keturunannya, yaitu : 1. KATOBIK RAI (Suhu Badan Panas Tinggi) 2. MANGGARAUK RAI (Penyakit Aneh Yang Mematikan) 3. BISU MBAES RAI (Bisul Bernanah) 4. DIO MANEK RAI (Bisul Raja) 5. BO BO’OK RAI (Batuk Berdarah) 6. LOTO RAI (Sejenis TBC) 7. AMBE RAI (Sejenis TBC) 8. NATA RAI (Batuk Tahunan) 9. MU TADAA RAI (Sejenis Batuk Berdarah) 10. SINGGO LANGGA RAI (Sakit Kepala) 11.TEIK KAFEO RAI (Sejenis Sakit Perut Karena Angin Jahat) 12. TAI KAMBETA RAI (Sejenis Sakit Perut Karena Angin Jahat Kedua belas anak BULA KAI inilah dalam dunia medis dikenal dengan dua belas jenis penyakit. LELERU LEDOH beranak DO LERU. DO LERU adalah seorang perempuan janda. Dari DO LERU inilah sejarah janda, balu, fakir miskin pertama kali terjadi di dunia. MATARA BULAN (LEGION) beranak TAU TARA. Setelah MATARA BULAN meninggal, arwahnya berprilaku menjadi jahat dan tidak segan-segan mencabut nyawa manusia yang dikenal bernama, LEGION (dalam Kitab orang Nasrani dan Kitab orang Islam). Dari kematian MATARA BULAN, sejarah pertama kali terjadinya kematian di dunia.

Sementara status TAU TARA yang ditinggalkan ayah dan ibunya, merupakan anak yatim piatu pertama di bumi (dunia).

LEDOH HORO (MATAHARI) dan BULA KAY (BULAN) selalu disebut dalam tuturan syair keturunan THIE MAU yang berbunyi, “ SEE LEO LEDO HORO FOO, MANA TESA TODAK, MA SEE LEO BULA KAY FOO MANA MOPO MORIK, ”yang artinya, “kehidupan manusia mana yang sama seperti MATAHARI yang selalu terbit dan terbenam.

Siapakah yang kehidupannya seperti BULAN, yang bisa muncul dan menghilang”. Mereka menegaskan pula, bahwa di kehidupan awal, MATAHARI dan BULAN yang dianggap ayah dan ibu, bersaudara dengan LANGIT, BUMI, BINTANG, KILAT, PETIR, ANGIN, BADAI, HUJAN, BATU, AIR dan LAUT. Dasar inilah, setiap hadir di pulau–pulau yang ditempati, mereka selalu membaginya menjadi dua bahagian, misalnya di Kepulauan Rote, bagian timur disebut dengan LEDOH SOU/LEDOH TODA, yang artinya, MAHATARI TERBIT. Sementara Kepulauan Rote bagian barat dinamai, LEDOH TESA/LEDOH TENA, yang artinya MATAHARI TENGGELAM. Hal lain, misalnya dalam membangun rumah tinggal atau adat, tiang penyangga (TIANG NOK/DII TOAN) yang terdiri dari dua (2) buah dianggap sebagai simbol MATAHARI dan BULAN. Tiang bagian TIMUR menurut penilaian mereka adalah MATAHARI dan berpredikat sebagai ayah. Sedangkan tiang bagian BARAT adalah ibu.

Dalam mendirikan rumah adat, tidak boleh salah meletakan atau menempatkan bagian-bagian tertentu, karena kalau tidak pemilik rumah dan keluarganya akan terkena tulah atau terancam nyawanya. Kepercayaan semacam ini masih berlaku di kalangan etnis THIE MAU. Kedua tiang nok tersebut dianggap memilki kekuatan magis dan sakti, misalnya kalau ada saudara yang pergi merantau dan tidak pernah kembali, kemudian mereka menginginkannya pulang dalam waktu singkat. Mereka akan menggantung sebotol arak keras atau dalam dialeg etnis THIE MAU disebut, ARA OE LANGGAK pada celah tiang nok bagian timur.

Setelah di gantung, arak itu diambil lagi, lalu dituangkan di dalam sebuah gelas. Kemudian sambil memegang gelas yang terisi arak, mereka pergi dan memeluk tiang bagian timur sambil menyebut : LOA LEDOH EE.. MA ANA MALA AU DEI, MA AU A AMA ALA LOA LEDOH DEI (Terjemahan : Hai Kebesaran MATAHARI dan BULAN jadikanlah saya sebagai anak kandung kalian begitu juga sebaliknya). Selesai ucapan ini sopi di dalam gelas tersebut langsung diminum dan beberapa tetes disiram ke tiang nok.

Lalu beralih ke tiang nok bagian barat dan memeluknya. Setelah dipeluk maka mereka akan berkata : NARA FAI EE.. AU TAO HATA NAI AU SODAN, BOE OO AU AMA HENA NEU LOA LEDOH MA NARA FAI.

(Terjemahan harafiahnya : OOO NARA FAI ….Saya ingin berbuat sesuatu dalam kehidupan ini, biarlah saya selalu berharap kepada kebesaran LOA LEDOH dan NARA FAI). Selesai ucapan ini sopi di dalam gelas langsung diminum dan beberapa tetes di siram ke tiang nok.

Usai ungkapan ini, barulah menyampaikan maksud dan tujuan. Maksudnya agar saudara mereka cepat pulang dalam dua atau tiga hari maka dalam waktu yang diinginkan, saudara mereka pasti pulang. Belakangan kepercayaan ini hilang, karena pengaruh agama Kristen.

Sementara orang Rote juga percaya, bahwa di kehidupan leluhur pertama mereka telah diadakan sumpah serapah antara dengan KILAT, PETIR dan GUNTUR. Isi sumpah tersebut adalah sepanjang keturunan mereka dilarang saling mengambil barang milik sesama. Bagi yang melanggar akan menerima murka leluhur, berupa disambar KILAT, PETIR, GUNTUR atau keluarga, rumah dan kampung mereka di landa bencana alam dan dicabut badai topan. Kepercayaan terhadap penguasa jagat raya tersebut masih dipertahankan oleh segelintir orang sakti (orang pintar) di komunitas etnis Rote. Mereka menganggap PETIR, KILAT dan GUNTUR sebagai sebuah kekuatan yang dasyat serta bisa dipergunakan sebagai senjata perang dan lain-lain.

Caranya bermacam-macam tergantung keperluan, misalnya binatang atau barang seseorang yang hilang dengan tidak tahu siapa yang pengambilnya. Sipemilik barang tidak perlu sibuk melapor ke polisi atau penyidik setempat, melainkan melakukan ritual kepada PETIR, KILAT dan GUNTUR, kemudian PETIR, KILAT dan PETIR yang mencari siapa pelakunya. Setelah ritual dilakukan dalam tempo dua sampai tiga hari, bagi yang mengambil barang tersebut akan disambar PETIR, KILAT dan GUNTUR hingga hangus (gosong).

Bahkan untuk mendapatkan sesuatu yang dinilai harus dan perlu, mereka selalu menyembah kepada Matahari dan Bulan, misalnya meminta ilmu kekebalan tubuh agar tidak tertembus senjata api, parang, pisau dan batu dan atau mereka mengiginkan kekayaan berlimpah ruah. Karena anggapan mereka, bahwa kedua benda itu adalah sumber kekuatan dan kekayaan, atau dalam syairnya disebut, mane sai mana sure su’i ma nduk nosok mana ketu parani. Artinya, matahari sumber kekayaan dan bulan pusat kekuatan.

Masih seputar itu, etnis Rote mengakui bahwa pada zaman leluhur pertama karena memiliki hubungan saudara, antara leluhur di langit dan di bumi selalu mengunjungi, bahkan leluhur di bumi pun untuk mendapatkan penerangan mengambil api ke langit. Dan hubungan ini baru terputus setelah peristiwa Bei Sei’uk dank arena kerasnya ayunan alu dari para wanita ketika melakukan menumbuk padi, membuat langit semakin menjauh.

Pada hal menurut mereka, langit dan bumi waktu itu hanya jauhnya sedepah. Kalau tuturan ini benar, maka sangat singkron dengan pertanyaan astronot asal Amerika, Neil Amstrong, bahwa ketika pesawat mereka hendak mendarat, dikejauhan mereka melihat binatang-binatang dengan rupa yang aneh sedang memandangi mereka dari para bebatuan.

Apakah binatang-binatang aneh yang dimaksud Ne’il Amstrong adalah anjing-anjing Bei Sei’uk?. Memang sulit dijelaskan. LAY HU (langit) beranak : 1. ELU LAIN (Angin Badai) beranak : ELU TONGGO (Angin Topan) beranak : NDELA ELU (Kilat) beranak : NGGEFA NDELA (Petir) 2. TATA LAY (GUNTUR) beranak : ANI TATA (angin kincang yang dingin), beranak : UDA ANIN (angin datang bersama hujan) beranak : OE UDAN (air hujan), beranak : UDAN (hujan). BELA HU (bumi) beranak : BATU BELA beranak : DAE BATU beranak : MBAKI-MBAKI DAE/PAKE-PAKE DAE) beranak : HUN MBAKI-MBAKI/HOM MBAKI-MBAKI beranak : LAY HUN beranak : EDA LAIN beranak DAMEDO EDA beranak : PALAPE DAMEDO beranak : NGGEO PALAPE beranak : KADE NGGEO beranak : LUTU KADE beranak : LIU LUTU beranak : NOA LIU beranak : NOA SAIN beraak : 1. SI NOA 2. LASI NOA (Keturunan orang Rote) 3. OE NOA LASI NOA beranak : TEMA NGU NOA LASI beranak : MEDA TEMA beranak : MAMAE MEDA beranak : PAKU MAMAE beranak : NILU PAKU beranak : KITA NILU beranak : RAI KITA beranak : ULU RAI beranak : DAVI ULU beranak : NDAVI ULU beranak : NDOLE DAVI beranak : MAU NDOLE beranak : 1. THIE MAU di Kepulauan ROTE dan NDAO 2. SABU MAU menetap di Pulau Timor 3. SAVU MAU ke Pulau Raijua 4. RAYA MAU di KEDANG FLORES,  5. HU MAU/HO MAU di BOBONARO MALIANA TIMOR LESTE  6. MERE MAU di Pulau Flores kabupaten MAUMERE 7. OE MAU di Pulau TIMOR Kabupaten BELU 8. RI MAU menetap di BANYUASIN SUMATERA UTARA 11. LY MAU menetap di TIDORE Kepulauan MALUKU 9. HELO MAU menempati Pulau SEMAU Kabupaten Kupang 10. BERE MAU mendiami BETUN Pulau TIMOR 11. AI MAU mendiami Pulau TIMOR daerah LUIKISA RDTL 19. SERA MAU dan keturunannya mendiami Pulau SERAM.,BANTEN (JAKARTA), ALOR,dan LARANTUKA. 2O. ALOR MAU mendiami Pulau ALOR TIMUR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *