Festival Lamaholot Memperkokoh Ketahanan Budaya

Spread the love

onlinentt.com-Lamaholot, Flores Timur, –Kehadiran Festival Lamaholot bukan semata semata menjadi ajang promosi dan tontonan wisata yang memikat tetapi juga sebagai wadah untuk memperkokoh ketahanan Budaya dan menjadi media transmisi budaya untuk generasi mendatang.

Perhelatan Festival Budaya Lamaholot Flores Timur 2019, tidak terlepas dari kerjasama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur dengan Platform Indonesiana dari Direktorat Jendral Kebudayaan- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pada tahun pertama, Platform Indonesiana telah mendukung 13 festival seni budaya yang tersebar di 9 daerah di Indonesia dengan melibatkan pemerintah daerah, komunitas, pusat kebudayaan dalam berbagai bentuk kalaborasi.

Di Tahun 2019 ini, Platform Indonesiana mendukung 19 festival seni budaya yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya adalah Festival Lamaholot di Flores Timur.

Dari rundown yang diperoleh media ini, Festival Lamaholot resmi dilaunching oleh Bupati Flores Timur, Antonius Hubertus Gege Hadjon, ST, pada Rabu, 11/9/2019, di Lapangan Bentala, Kecamatan Lewolema, Flores Timur dan berakhir pada 15/9/2019 di Desa Karing Lamalouk, Adonara Timur.

Pada tanggal 11 dan 12 September 2019, diadakan di Desa Bentala, Kecamatan Lewolema yang bertajuk “Nubun Tawa” yang akan menampilkan tradisi Seni Lado, Sadok Nonga, Le’on Tenada serta acara acara bertema budaya lainnya.

Pada tanggal 13 September 2019 akan diadakan seminar bertema “Serasehan Budaya” (Diskusi Budaya) yang bertajuk ”Membaca Kembali Kelamaholotan“, dengan menghadirkan nara sumber, I Made Dharma Suteja, S.S.M.Si, Ketua Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali (BPNP), Wicaksono Adi, Penyair dan penulis esei seni-budaya Nasional dan narasumber lokal, Bernadus Boli ujan, SVD dan Ahmad Betan.

Bupati Flores Timur, Antonius Hubertus Gege Hadjon, ST, dalam sambutanya pada panduan Festival menyampaikan festival kali ini adalah konsep gotong royong menjadi roh yang menggambarkan komunitas-komunitas seni budaya yang untuk berkontribusi secara nyata. Komunitas-komunitas ini terbentuk sejak dan sebelum festival Nubun Tawa tahun 2018 yang lalu, sehingga pemerintah merasa perlu untuk mendorong tumbuh kembang komunitas yang ada. Salah satunya melalui festival. (*Att)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *